oleh

Culinary Paradise Cemplon Setia Budi Hadirkan Nuansa Rasa Nostalgia

POPULERNEWS, Jakarta| Culinary Paradise Cemplon yang terletak di Jalan Setia Budi, Jakarta Selatan, tak hanya memikat hati para pelanggan dan pengunjungnya dengan cita rasa menu yang disajikan. Akan tetapi ada racikan lain yang mendekatkan hati dan rasa kita pada masa lalu yang penuh nostalgia.

Sehari-harinya Culinary Paradise Cemplon selalu banyak didatangi  konsumennya baik dengan dine in ataupun secara take away, bahkan dapat di pesan secara online. Konsumen dengan sabar antri menunggu menu yang dipesan. Tentu saja pilihan konsumen itu terkait dengan cita rasa setiap menu yang disajikan.

Di Culinary Paradise Cemplon tersedia sekitar 30 menu pilihan rasa, terutama kuliner selera nusantara. Tak sekadar menawarkan kuliner, tapi menu nusantara dibuat sama persis dengan apa yang ada di daerahnya. Seperti menu rawon, pecel Jawa Timur yang disajikan di sini memiliki cita rasanya identik dengan yang asli di Jawa Timur.

Demikian juga menu Pempek di sini sama dengan pempek asli Palembang. Mereka yang mencicipi pempek di sini bisa bernostalgia dengan pempek kampung halaman di Palembang.

Menurut pemilik Culinary Paradise Cemplon, Pak Harun, bisnis kuliner yang ia bangun sejak 12 tahun lalu itu memang dirancang dengan konsep yang jitu, yakni menu yang disajikan di sini bercorak universal.

Bahkan, selain menu nusantara, aneka menu Internasional juga tersedia di sini. Dengan racikan bumbu jitu menyentuh bibir dan cita rasa. Itu membuat pelanggan tak mau beranjak. Mereka akan kembali  dan menjadi pelanggan yang setia.

Soal meracik makanan dan bumbu, memang dipikirkan secara matang oleh Pak Harun. Tangan-tangan yang berpengalaman mengolahnya hingga tersaji di meja konsumen.

Suasana tempat tampak sederhana dari luar tetapi ketika pengunjung masuk kedalam akan disambut nuansa nyaman, bersih di tambah dengan iringan musik nostalgia menjadi pemikat hati pelanggan yang  melahirkan rasa memori pada kenangan masa lalu. Harun sempat berujar, memang sengaja  menghadirkan nuansa nostalgia di culinary paradise Cemplon ini.

Lebih dari itu, Harun punya pendekatan yang humanistik terhadap pembelinya.

“Hampir semua pelanggan kami, saya selalu minta pendapat mereka tentang menu yang kami sajikan di sini. Mereka rajin memberi saran dan masukan, termasuk mengusulkan apa yang perlu disediakan di sini. Karena Makan itu bukan sekadar kegiatan isi perut, tapi juga suatu komunikasi dari hati ke hati.

Dialog dengan pengunjungnya terus menerus di jaga agar lewat kuliner kita membangun budaya persaudaraan dan makna universal kemanusiaan,” kata Harus, owner yang lebih mengedepankan nilai-nilai persaudaraan dalam bisnis kulinernya.

Pendekatan itu sangat membantu bisnisnya. Para pelanggan setianya membantu menyebarkan bisnisnya lewat media sosial mereka. Pembeli dan pelanggan pun kian banyak.

Mereka yang datang makan di Cemplon ini ikut dihibur musik manis tahun 80 – 90an yang lahirkan memori. Musik itu universal dan menimbulkan rasa cinta. Anak-anak muda yang mampir di Cemplon akhirnya ikut merasakan lagu-lagu kesukaan orangtuanya.

Harun berkisah, warungnya juga didatangi para ekspatriat dari Cina dan India. Mereka memesan menu khusus dengan bumbu-bumbu yang mereka tentukan. Mereka suka sayur-sayuran. Faktanya, berkisar  40 persen menu yang disediakan merupakan pesanan pelanggan setia.

Di depan  Cemplon terletak Sekolah SMA 3 Setia Budi. Para siswa-siswi menjadikannya sebagai tempat makan ideal mereka. Kadang mereka mengerjakan tugas mereka dari sini: Work From Cemplon (WFC).

Lebih lanjut, Harun mengatakan selalu berupaya dekat dan bercerita dengan tamunya.  Sisi positifnya, Kualitas makanan tetap terjaga dan harga terjangkau.

Bayangkan, seporsi pecel rasa asli Jawa Timuran dengan nasi dan empat jenis tambahan sayuran hanya Rp.12.000., bagi warga Jakarta tergolong murah juga di mata tukang ojek dan sopir taksi yang selalu jadi pelanggan Cemplon.

Pandemi Covid-19 sempat memukul bisnis Pak Harun, ada penurunan hingga 50 persen. Hingga saat ini Pemerintah sedang ketat menerapkan PPKM level 3. Namun Harun tidak putus asa. Ia tetap percaya pada mutu menu kulinernya. Pelanggan yang tak datang bukan karena tak suka lagi, melainkan untuk sementara ruang gerak mereka dibatasi aturan.

Harun tetap setia pada pelanggannya. Baginya, bisnis kulinernya memiliki momen perjumpaan dengan sesama manusia, dalam komunikasi dan keterbukaan hati. Bila Anda punya waktu, mampirlah sebentar di Culinary Paradise Cemplon Setia Budi, Jakarta Selatan”, imbuh Harun. [Novrita/red]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed